Rambu Kehidupan

Januari 3, 2008

Saudaraku
Kehidupan, tak ubahnya sebuah perjalanan. Ada asal, perlu bekal, ada terminal tempat istirahat dan punya tujuan. Ilustrasi seperti itu disampaikan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Rasul pernah menggambarkan hidup dunia, seperti seorang musafir yang bernaung di bawah rindangnya pohon, ia beristirahat tapi setelah itu ia tinggalkan pohon tersebut. Dan karenanya, Rasul memberi panduan agar hidup ini disikapi sebagai sesuatu yang sementara. Kun fii dunya ka annaka ghariibun au ‘abiri sabiil, hiduplah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang dalam perjalanan. Orang asing selalu berhati-hati sebab ia belum paham betul seluk beluk wilayah yang ia tempati. Hati-hati terhadap aral, waspada terhadap berbagai kemungkinan buruk. Sedangkan ornag yang dalam perjalanan akan berpikir bagaimana mencapai tujuan, bekal apa saja yang harus disertakan, dan yang pasti akan ada saat ia harus mengakhiri perjalanan itu

Saudaraku
Dalam perjalanan ini, peluang dan kesempatan kita sama. Allah telah memberikan kita petunjuk melalui Al-qur’an dan Sunnah RasulNYA. Allah telah memberi kita kemampuan berfikir, dan memberi kita sejumlah kewajiban. Itulah bukti rahmat Allah swt. Setelah itu, kita semuanya diberi pahala atas kebaikan yang dilakukan dan hukuman dari segala keburukan. Kenyatan ini, menjadikan kita selalu berada dalam ujian Allah swt. Mungkin kita diuji dengan kesenangan, harta yang cukup, wajah yang cantik/tampan, jabatan yang tinggi, istri yang sholihah lagi jelita misalnya. Apakah kita mampu mengiringinya dengan syukur??? Mungkin kita diuji melalui ragam kesulitan, misalnya kesulitan ekonomi, setumpuk masalah keluarga, jodoh yang tak kunjung dating, pekerjaan yang tak pernah diraih dan sebagainya. Apakah kita mampu bersabar??? Jangan katakan, bahwa ujian dengan kesenangan itu lebih baik daripada ujian lewat kesulitan. Para sahabat dahulu justru menjauh dari hidup senang, lantaran khawatir fitnah kesenangan lebih mendorong mereka untuk lupa dan lalai terhadap kewajiban. Para sahabat bahkan justru tak ingin lepas dari ujian hidup. Seperti ungkapan do’a Abdullah bin Mas’ud: “Janganlah kalian berdo’a dengan mengatakan: Yaa Allah aku berlindung kepadaMu dari berbagai ujian hidup” Karen tak seorangpun dari kalian yang terhindar dari ujian. Allah sudah mengatakan, “Sesungguhnya harta dan anak kalian adalah fitnah (ujian)” maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari kesesatan dan bahaya fitnah

Saudaraku
Perjalanan hidup kita yang panjang, penuh peluh dan ujian ini, harusnya tidak merubah scenario perpindahan yang seharusnya kita lewati. Perpindahan dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Perpindahan dari jahiliyah kepada Islam, dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari kelalaian kepada kepatuhan sepenuh hati. Kemudian saling berlomba melakukan kebaikan dan bergabung dalam sebuah parade juru dakwah, meraih mardhotillah. Banyak perbekalan yang harus kita siapkan dalam menempuk perjalanan ini. Kita harus kenali siapa kawan dan siapa lawan. Kita harus tau tabiat perjalanan. Kita harus paham ke mana arah yang paling tepat mencapai tujuan. Kita juga harus mengerti sarana apa yang paling baik, yang bisa membawa kita kepada tujuan perjalanan. Dan kita harus seksama menangkap rambu-rambu yang ada, agar tidak tersesat di tengah jalan.

Allah swt Maha Rahmah, telah memberi sejumlah rambu perjalanan yang secara fitri kita semua dapat melaksanakannya. Rambu tersebut ibarat pagar yang akan membimbing dan memelihara kita untuk tetap berada di jalur kebenaran.

Pertama, rambu itu berupa ta’jilul ‘uqubah (percepatan hukum). Allah akan memberi hukuman sebagai dampak atau akibat, langsung setelah kita melakukan kesalahan. Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt. Bila di antara kita melakukan kesalahan, dosa, atau kemaksiatan, biasanya Allah memberikan hukuman langsung agar kita sadar dan kembali pada jalan yang benar. Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah mengatakan , “Banyak orang mempunyai mata, tapi pandangan hatinya redup. Banyak yang mempunyai ketajaman lisan, tapi hatinya tidak bersinar. Banyak yang melakukan dosa dalam makanan, hingga ia tehalang melakukan shalat malam, dan sulit mengecap kenikmatan dalam bermunajat pada Allah”
Hal ini pula yang dikatakan suatu saat, “Aku mengetahui dosa dan kesalahanku kepda Allah melalui sikap istri dan keluargaku, sikap kendaraanku, hingga sikap tikus-tikus di rumahku….” Subhanallah

Saudaraku
Itulah sebabnya, tak pernah ada seorang pezina merasa senang dan nikmat menikah dengan pezina. Seorang pencuri pun tak pernah merasa tenang menggunakan harta curiannya. Karenanya, kita harus senantiasa sensitive menangkap rambu itu. Bisa jadi, kebanyakan maksiat mata akan menjadikan kita tidak mendapatkan sikap istri seperti yang diinginkan. Mungkin saja, Karena kita boros membelanjakan harta, hal itu akan menutup barakah harta yang sudah kita dapatkan. Bisa juga sikap kikir waktu untuk berjuang fii sabilillah semakin mendorong banyaknya tuntutan waktu untuk bekerja duniawi. Sementara di sisi lain, waktu untuk beribadah semakin berkurang hingga yang terasa hanyalah suasana hati yang makin terhimpit

Kondisi ini disebut juga dengan istilah ibratul utsrah yang artinya peristiwa ketergelinciran yang bias memberi kita pelajaran. Kesalahan yang kita lakukan membuat kita tersadar. Ibaratnya, seorang yang terpeleset atau tersandung karena ceroboh dalam berjalan, akan tersadar dan menoleh. Apa yang menyebabkannya terpeleset atau tersandung? Setelah itu, ia akan lebih hati-hati berjalan.

Kedua, rambu itu bernama lazddzatu tha’ah, kenikmatan dan kebahagian yang kita rasakan setelah berbuat ketaatan. Rasakanlah kenikmatan kala kita mampu bersabar menahan syahwat dan meninggalkan maksiat. Allah akan memberi balasan atas kesabaran itu dengan kenikmatan, rasa senang dan ketentraman yang lebih. Tidak saja di dunia, tapi juga kebahagiaan di hari akhir. Perhatikanlah, ornag yang mengeluarkan hartanya untuk kepentingan dakwah. Harta yang diberikan, mungkin tidak secara kongkrit diganti Allah dengan harta serupa. Namun Allah berikan nikmat sehat pada keluarganya, pada istri dan anak-anaknya. Dengan demikian Allah menyusupkan kebahagiaan tiada tara kepadanya. Ada pula orang yang kikir berinfaq, yang karenanya Allah memberinya bermacam penyakit hingga hartanya ludes sedikit demi sedikit, untuk mengobati sakitnya

Pengorbanan waktu  dan kesungguhan dalam berdakwah, kerap menumbuhkan kebahagiaan khas dalam hati seseorang serta rasa cinta pada sesame. Tak jarang hal itu mampu menambah kekuatan fisik dan keceriaan wajah. Orang lainpun bahkan ikut merasa nyaman bersama orang tersebut. Lebih jauh lagi, pengorbanan itu akan terbalas dengan rasa nikmat dan khusyu’ hidup bersama barisan juru dakwah. Semua itu tak mungkin dirasakan oleh mereka yang tenggelam dalam kemaksiatan, meski ia penuhi semua kebutuhan nafsu dengan limpahan harta.

Saudaraku
Rahmat Allah adalah hak setiap kaum beriman. Inilah yang dikatakan para salafussshalih: “Kasihan para orang yang lalai, mereka keluar dari dunia, tapi tidak sempat merasakan sesuatu yang paling indah di dunia”

Disadur dari
Berjuang di Dunia, Berharap Pertemuan di Surga
Karya Muhammad Nursani

Entry Filed under: Dakwah. .

2 Comments Add your own

  • 1. Aristiono Nugroho  |  Mei 10, 2008 at 11:28 pm

    Terimakasih informasinya.
    Saya terkesan kalimat terakhir “Kasihan orang yang lalai, mereka keluar dari dunia, tetapi tidak sempat merasakan yang paling indah di dunia”.
    Pertanyaan menariknya, “Apa yang paling indah di dunia?”
    Jawabannya, “Yaitu berjuang menggapai ridha Allah SWT. Itulah hal terindah (paling berkesan) di dunia.”

    Balas
  • 2. Aristiono Nugroho  |  Maret 19, 2009 at 8:40 pm

    Assallamu’alaikum Wr. Wb.
    Apa khabar Admin? ayo update blognya! Mari tebarkan nilai-nilai Islam di dunia maya, agar semakin banyak orang yang hidupnya bernilai di hadapan Allah SWT.
    Wassallamu’alaikum Wr. Wb.

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Link Berita

Link Blog's Friend

Link Blogging Domain

Link Dakwah & Harokah

Link Keluarga

Link Majalah Islam

Link Pesantren

Arsip

Top Posts

Kalender Masehi

Januari 2008
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Komentar Terakhir

Edi di About
ahmad rifai di Info
Aristiono Nugroho di Rambu Kehidupan
pptm di Contact
priyodjatmiko di Contact

Blog Stats

obj = new Object;obj.clockfile = "world001-blue.swf";obj.TimeZone = "ICT";obj.width = 720;obj.height = 375;obj.wmode = "transparent";showClock(obj);